Perkuat Jejaring Internasional, Teknik Geofisika Itera Hadirkan Pakar Taiwan Bahas Mitigasi Bencana

Perkuat Jejaring Internasional, Teknik Geofisika Itera Hadirkan Pakar Taiwan Bahas Mitigasi Bencana

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan studium generale yang menghadirkan pakar dari dua universitas terkemuka di Taiwan, yakni National Cheng Kung University (NCKU) dan National Kaohsiung University of Science and Technology (NKUST), Selasa, 31 Maret 2026, di Aula GKU 2 Itera.

Mengusung tema “Advancing Geoscience for Disaster Resiliency and Resource Management: A Collaborative Perspective Between Indonesia and Taiwan”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi ilmiah lintas negara untuk menjawab tantangan kebencanaan dan pengelolaan sumber daya berbasis ilmu kebumian.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTI Itera, Dr. Jabosar Ronggur Hamonangan Panjaitan, S.T., M.T., mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan komitmen Itera dalam membangun ekosistem akademik yang terbuka dan kolaboratif di tingkat global. Ia menegaskan, Teknik Geofisika Itera yang telah terakreditasi unggul terus mendorong penguatan jejaring internasional guna menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Teknik Geofisika Itera yang telah terakreditasi unggul terus mendorong penguatan jejaring internasional guna menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Ruey-Juin Rau dari NCKU mengulas analisis deformasi struktur pada zona patahan, termasuk teknik identifikasi lokasi dan ketebalan patahan menggunakan metode microtremor. Sementara itu, Prof. En-Jui Lee memaparkan pemanfaatan machine learning dalam seismologi untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi deteksi gelombang gempa sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana.

Adapun Prof. Kuo-En Ching menjelaskan peran teknologi geodesi modern seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) dalam menilai potensi bahaya geologi, khususnya pada koridor infrastruktur vital. Sementara itu, Prof. Wen-Hau Lan dari NKUST memaparkan dinamika perubahan muka laut global berbasis data satelit altimetri untuk memantau kenaikan permukaan laut di kawasan Asia Tenggara.

Tak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, kegiatan ini juga membuka peluang bagi mahasiswa Itera untuk menapaki karier akademik internasional melalui sesi scholarship interview. Program tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa melanjutkan studi di Taiwan, khususnya di bidang kebumian dan teknologi mitigasi bencana.

Prof. Kuo-En Ching menekankan pentingnya kontribusi lulusan Indonesia dalam pengembangan ilmu kebumian. “Mahasiswa yang melanjutkan studi di NCKU diharapkan dapat menyerap ilmu sebanyak mungkin dan kembali ke Indonesia untuk berkontribusi, mengingat Indonesia memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam, khususnya dalam kajian mitigasi bencana,” ujarnya.

Rilis FTI/ Andre Ramadhani (Teknik Material)