Mahasiswa Itera Dampingi Warga Desa Pemerihan Bengkunat Produksi Sabun Propolis Berbasis Potensi Desa

Mahasiswa Itera Dampingi Warga Desa Pemerihan Bengkunat Produksi Sabun Propolis Berbasis Potensi Desa

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Mahasiswa Program Studi Rekayasa Kosmetik Institut Teknologi Sumatera (Itera) melatih warga Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, mengolah propolis lebah menjadi produk sabun bernilai ekonomi “Picabee”. Pelatihan tersebut dikemas dalam Workshop Pembuatan Sabun Propolis yang digelar pada Rabu, 21 Januari 2026, sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Itera.

Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN Tematik Kelompok 16 Desa Pemerihan ini bertujuan mendorong pemanfaatan potensi sumber daya lokal desa, khususnya hasil peternakan lebah yang selama ini belum dioptimalkan.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Pemerihan, Janjiyanto, mengapresiasi inisiatif mahasiswa Itera. Menurut dia, desa setempat memiliki potensi produk lebah seperti madu, bipollen, dan propolis, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan bahan mentah. “Melalui pelatihan ini, masyarakat mendapat wawasan baru untuk mengolah propolis menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah,” ujar Janjiyanto.

Workshop dipandu oleh mahasiswa Rekayasa Kosmetik Itera di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan, Dr. Achmad Gus Fahmi, S.Si., M.Si. Propolis yang digunakan berasal dari lebah Trigona apicalis, yang diolah menjadi sabun perawatan diri berbahan alam.

Desa Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat memiliki potensi produk lebah seperti madu, bipollen, dan propolis, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penjualan bahan mentah.

Pada sesi awal, peserta yang terdiri dari anggota PKK dan warga desa mendapatkan materi mengenai manfaat propolis, pengenalan bahan serta alat, hingga praktik langsung pembuatan sabun, mulai dari pencampuran bahan sampai proses pencetakan. Antusiasme warga tampak tinggi sepanjang kegiatan, terutama saat praktik produksi berlangsung.

Pelatihan berlanjut dengan pembekalan lanjutan yang berfokus pada pengemasan produk dan pengenalan dasar kewirausahaan. Peserta diperkenalkan pada pentingnya desain kemasan, identitas produk, serta strategi awal pemasaran. Dalam sesi ini, warga mempraktikkan pengemasan sabun dengan merek “Picabee” menggunakan contoh kemasan yang telah disiapkan.

Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman awal mengenai perencanaan usaha sederhana, termasuk penentuan harga jual dan kesiapan produk untuk dipasarkan sebagai langkah awal pengembangan usaha lokal.

Dosen pembimbing lapangan, Dr. Achmad Gus Fahmi, berharap rangkaian workshop ini dapat membekali masyarakat dengan keterampilan produksi, pengemasan, serta wawasan kewirausahaan guna mendorong usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Itera berkomitmen untuk terus berperan dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal secara inovatif dan berkelanjutan. (Rilis/Humas)