ITERA NEWS — Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Sumatera (Itera) memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai bahan baku penjernih air untuk membantu mengatasi persoalan kualitas air di Desa Tarahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Inovasi tersebut disosialisasikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar di Balai Desa Tarahan, beberapa waktu lalu. Program bertajuk “Dari Limbah Jadi Berkah: Pemanfaatan Ampas Tebu sebagai Bahan Baku dalam Penjernihan Air” itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan limbah sekaligus solusi sederhana penyediaan air bersih.
Program ini dilaksanakan oleh tim pelaksana PkM yang diketuai oleh M. Akbari Danasla, S.Si., M.T., bersama dosen Alio Jasipto, S.T., M.T., La Ode Arham, S.Pd., M.T., Deni Mildan, M.T., Rully Ernando, M.T., Tiorivaldi, M.T., Alfath Zain, M.Eng., Divia Lestari, M.T., serta mahasiswa Faqih Ananda Putra, Dicky Ferdiansyah, Sherly Dwi Septikasari, Asti Pricillia Safitri dan Bharadipa Wirapati Jimbaran.
Ketua tim PkM, M. Akbari Danasla, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis awal, sejumlah titik sampel air di wilayah tersebut mengandung zat kapur melebihi ambang batas aman serta memiliki tingkat kekeruhan tinggi akibat kandungan Total Suspended Solids (TSS). Kondisi itu berpotensi berdampak pada kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kesuburan tanah. “Melalui pemanfaatan ampas tebu sebagai media filter sederhana, masyarakat dapat mengolah air keruh dan berkapur dengan teknologi yang mudah diterapkan, murah, dan ramah lingkungan,” ujar Akbari.
Melalui pemanfaatan ampas tebu sebagai media filter sederhana, masyarakat dapat mengolah air keruh dan berkapur dengan teknologi yang mudah diterapkan, murah, dan ramah lingkungan
Dalam kegiatan tersebut, tim yang melibatkan dosen dan mahasiswa Teknik Pertambangan Itera memberikan edukasi sekaligus praktik pembuatan filter air berbahan dasar limbah ampas tebu. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bersih dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
Akbari menambahkan, hasil kegiatan dan penelitian ini akan menjadi dasar pengembangan model pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan, khususnya di wilayah pesisir, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Kepala Desa Tarahan mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurut dia, program ini memberi wawasan baru bagi warga dalam menangani persoalan air keruh dan berkapur, sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. (Rilis/Humas)


