ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) terus berkomitmen mewujudkan lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi Itera dalam Forum Nasional dan Pelatihan Penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Perguruan Tinggi Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan British Council ini berlangsung pada 12–13 Oktober 2026 di Auditorium Algoritma, Gedung G, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya, Malang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Director APAC British Council Kate Joyce, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Dr. Beny Bandanadjaja, serta Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P.
Forum nasional ini menghadirkan berbagai materi strategis yang disampaikan oleh pakar dan praktisi pendidikan inklusif. Para narasumber tersebut antara lain Summer Xia (Country Director Indonesia & Director of ASEAN, British Council), Eka Prastama Widiyanta, S.T. (Komisi Nasional Disabilitas), Yuita Arum Sari, S.Kom., M.Kom., Ph.D. (FILKOM UB), Wuri Handayani, Ph.D. (ULD Universitas Gadjah Mada), Marthella Sirait (CEO Konekin), dan Setiawan Gema Budi (DPP Persatuan Tunanetra Indonesia). Selain itu, Ketua ULD UB Zubaidah Ningsih, Ph.D., memaparkan praktik baik dalam penyelenggaraan layanan disabilitas di perguruan tinggi.
Itera akan segera menindaklanjuti sejumlah rencana aksi melalui langkah-langkah konkret. Upaya tersebut meliputi mendorong penerbitan kebijakan pendukung, memperkuat kelembagaan dan tata kelola ULD
Delegasi Itera terdiri atas Ketua Senat sekaligus Penanggung Jawab Tim Layanan Disabilitas Itera, Dr. Sunarsih, dan Ketua Tim Layanan Disabilitas Itera, Dr. Winati Nurhayu. Keikutsertaan keduanya bertujuan memperkuat kebijakan dan tata kelola kelembagaan layanan disabilitas, sekaligus merumuskan rencana aksi strategis untuk mewujudkan kampus yang inklusif di Itera.
Dr. Winati menjelaskan bahwa selama dua hari, peserta mendapatkan pembekalan komprehensif yang mencakup empat modul utama, yaitu tata kelola ULD, layanan inklusif, pembelajaran berbasis Universal Design for Learning (UDL), dan transisi karier. Sebagai luaran pelatihan, setiap perguruan tinggi peserta menyusun rencana aksi (action plan) sesuai dengan kebutuhan dan kondisi institusi masing-masing.
Ia menambahkan bahwa setelah pelatihan, Itera akan segera menindaklanjuti sejumlah rencana aksi melalui langkah-langkah konkret. Upaya tersebut meliputi mendorong penerbitan kebijakan pendukung, memperkuat kelembagaan dan tata kelola ULD, meningkatkan pendataan serta asesmen mahasiswa penyandang disabilitas, dan mengintegrasikan skrining terkait disabilitas ke dalam tes psikologi mahasiswa baru pada Tahap Persiapan Bersama (TPB).
“Kami juga akan memperluas peran relawan sebagai pendamping sebaya serta menggalakkan peningkatan kesadaran tentang inklusivitas di fakultas-fakultas,” ujar Dr. Winati.
Melalui partisipasi dalam forum nasional dan pelatihan ini, Itera berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan kesetaraan hak dan akses terhadap pendidikan tinggi yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika. (Rilis/Humas)

