You are currently viewing Itera dan BRMP TRI Temukan Potensi Sumber Air untuk Kebun Kopi Tanggamus

Itera dan BRMP TRI Temukan Potensi Sumber Air untuk Kebun Kopi Tanggamus

 

ITERA NEWS-Tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) Kementerian Pertanian melakukan survei geolistrik di kebun kopi milik petani di Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Survei menggunakan alat Automatic Detection and Monitoring Technology (ADMT) untuk mengidentifikasi lapisan pembawa air (akuifer) yang berpotensi menjadi sumber air bagi sistem irigasi tetes.

Survei ini merupakan bagian dari program “Paket Teknologi Budidaya Presisi Kopi Sistem Pagar Adaptif Perubahan Iklim melalui Irigasi Tetes Berbasis Energi Surya” yang didanai melalui skema KREATIF Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) Kementerian Pertanian tahun 2026. Program ini melibatkan BRMP TRI sebagai pengusul, Itera sebagai mitra, serta kelembagaan petani setempat untuk mengembangkan teknologi budidaya kopi yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Tim Itera yang terlibat terdiri atas Yusuf Affandi, M.Sc., Sabar, M.Si., Fadli Hastito, M.T., Achmad Chalid Afif, M.Ling., dan Alhada Farduwin, M.T., serta seorang mahasiswa bernama Joseph. Sementara itu, BRMP TRI diwakili oleh Mohamad Redzka Andika Putra, S.Si., selaku penanggung jawab program, dan Dwi Astutik, S.P., M.Sc.

Sebelum pengukuran dilakukan, tim berkoordinasi dengan Koperasi Tirto Kencono T20 yang diwakili Sri Rejeki untuk menentukan lokasi survei. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, pengukuran dilaksanakan di kebun kopi milik Ajid, salah satu anggota koperasi yang memiliki lahan seluas sekitar 1,3 hektare. Di lokasi tersebut, tim melakukan pengukuran pada dua lintasan untuk memetakan kondisi bawah permukaan dan mengidentifikasi titik potensial sumber air.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa lintasan kedua memiliki bentangan sumber air yang lebih luas dibandingkan lintasan pertama. Atas dasar temuan tersebut, tim merekomendasikan titik pada lintasan kedua sebagai lokasi potensial sumber air untuk mendukung penerapan irigasi tetes. Titik tersebut berada sekitar 20 meter dari titik awal lahan dan akan menjadi acuan dalam perencanaan sistem irigasi.

Yusuf Affandi menjelaskan bahwa survei geolistrik menjadi langkah awal untuk menentukan lokasi potensial sumber air sebelum pembangunan sistem irigasi dilakukan. “Kami mengukur dua lintasan di lahan Pak Ajid. Lintasan kedua menunjukkan bentangan sumber air yang lebih luas sehingga titik itulah yang kami rekomendasikan sebagai sumber air untuk irigasi tetes,” ujar yusuf.

Identifikasi sumber air ini penting karena ketersediaan air menjadi salah satu tantangan dalam budidaya kopi, terutama saat kemarau panjang dan terjadi perubahan pola curah hujan. Kondisi kekurangan air dapat menyebabkan tanaman mengalami cekaman air yang berdampak pada gugurnya bunga dan buah muda serta penurunan mutu biji kopi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sistem irigasi tetes dirancang agar air dan nutrisi dapat disalurkan secara terukur langsung ke daerah perakaran tanaman sehingga penggunaannya lebih efisien.

Dalam program ini, sistem irigasi tetes direncanakan menggunakan pompa bertenaga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan sistem off-grid, yaitu sistem yang tidak terhubung ke jaringan listrik umum. Pemanfaatan energi surya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani pada bahan bakar minyak maupun pasokan listrik konvensional. Selain pembangunan demonstrasi plot (demplot) irigasi tetes bertenaga surya, program ini mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP) budidaya serta peningkatan kapasitas petani dalam mengoperasikan dan merawat sistem irigasi.

Mohamad Redzka Andika Putra menegaskan bahwa kolaborasi antara BRMP TRI, Itera, dan kelembagaan petani menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi tersebut. Identifikasi sumber air, menurutnya, merupakan tahapan awal sebelum sistem irigasi tetes bertenaga surya diterapkan di kebun petani.

Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Sri Rejeki dari Koperasi Tirto Kencono T20. Ia berharap teknologi tersebut dapat diterapkan di lebih banyak lahan, terutama lahan yang memiliki keterbatasan akses air dan sulit dijangkau sistem irigasi konvensional. Dengan demikian, manfaat program diharapkan dapat dirasakan oleh lebih banyak petani kopi di wilayah Tanggamus.

Setelah survei selesai, tahapan selanjutnya adalah perancangan dan pemasangan jaringan irigasi tetes bertenaga surya di kebun kopi petani. Melalui kolaborasi ini, Itera dan BRMP TRI berharap penerapan teknologi budidaya presisi dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani kopi dalam menghadapi perubahan iklim. (Rilis/Humas)