ITERA NEWS – Asrama Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter, penguatan akademik, sekaligus sarana adaptasi mahasiswa dalam mengenal keberagaman.
Di lingkungan asrama, mahasiswa memperoleh penguatan akademik melalui program tutorial rutin untuk sejumlah mata kuliah dasar, seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Bahasa Inggris. Program ini menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru dalam menempuh perkuliahan pada jenjang berikutnya. Selain itu, untuk menyalurkan minat dan bakat mahasiswa digelar berbagai kegiatan seni dan olahraga melalui program Asrama Olympic, serta kegiatan pembinaan keagamaan.
Saat ini, Itera memiliki lima gedung atau tower building (TB) asrama mahasiswa. Gedung TB 1, 4, dan 5 digunakan sebagai asrama putri, sedangkan TB 2 dan 3 diperuntukkan bagi asrama putra. Para penghuni asrama akrab disebut “cendekia asrama”, sebuah sebutan yang menyiratkan harapan agar mereka tumbuh menjadi insan cendekia dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu penghuni asrama, Agnes Meranda Sihombing, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan asal Tebing Tinggi, Sumatera Utara, mengaku menemukan makna kebersamaan dan toleransi sejak tinggal di asrama. Ia kerap melihat cendekia asrama Muslim melaksanakan ibadah berjemaah di masjid, sementara penghuni dengan agama lain beribadah bersama di lingkungan asrama. Selain itu, setiap Senin pagi para mahasiswa kompak melakukan kegiatan bersih-bersih sebagai bentuk tanggung jawab kolektif menjaga kebersihan hunian bersama. “Kehidupan di asrama memang lebih terstruktur, tetapi seluruh kegiatannya berorientasi pada pengembangan diri mahasiswa,” ujar Agnes.
Tantangannya cukup banyak, mulai dari mengelola keuangan, beradaptasi, hingga menahan rindu karena jauh dari keluarga. Namun berkat dukungan teman sekamar dan kakak asrama, semua tantangan itu bisa saya lalui
Agnes juga aktif mengikuti kegiatan belajar hingga olahraga bersama dengan sesama cendekia asrama. Ia terkesan dengan peran kakak asrama di setiap lantai gedung yang selalu mendampingi para penghuni. “Kakak asrama bukan sekadar teman diskusi, tetapi juga berperan penting dalam mendampingi kami,” tambahnya.
Penghuni asrama lainnya, Wielman Itolo Halawa, mahasiswa Program Studi Sains Data asal Nias Selatan, mengaku menjadi pribadi yang lebih disiplin selama tinggal di asrama. Ia merasa terbantu dalam menjalani perkuliahan melalui kegiatan tutorial dan belajar bersama yang rutin dilaksanakan.

Dalam berbagai diskusi, Wielman juga belajar mengemukakan pendapat dan terbiasa berdialog dengan sesama cendekia asrama. “Tantangannya cukup banyak, mulai dari mengelola keuangan, beradaptasi, hingga menahan rindu karena jauh dari keluarga. Namun berkat dukungan teman sekamar dan kakak asrama, semua tantangan itu bisa saya lalui,” ujar Wielman.
Agnes dan Wielman adalah dua dari ribuan cendekia asrama yang berharap asrama terus menjadi rumah yang aman, inklusif, serta mendukung mahasiswa tumbuh menyeluruh.
Kriteria Penghuni Asrama
Asrama mahasiswa Itera menerapkan sejumlah kriteria khusus dalam proses seleksi calon penghuni. Kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada aspek hunian, tetapi juga pada komitmen pembinaan karakter dan penguatan nilai kebersamaan mahasiswa.
Kepala Pusat Asrama dan RIMA Itera, Arief Juniarto, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa pengelolaan asrama mengusung pendekatan kekeluargaan. Asrama diposisikan sebagai ruang tumbuh bersama yang mendorong interaksi positif, solidaritas, dan kepedulian sosial antarmahasiswa. “Melalui pendekatan kekeluargaan, mahasiswa didorong untuk saling mengenal, menghargai perbedaan, serta membangun kebersamaan layaknya dalam sebuah keluarga. Asrama menjadi ruang pembinaan karakter, bukan sekadar hunian,” ujar Arief.
Dalam proses seleksi, prioritas diberikan kepada mahasiswa baru penerima Kartu Indonesia Pintar–Kuliah (KIP-K) yang telah mendaftar melalui akun Data Induk Mahasiswa (DIM). Selain itu, mahasiswa baru yang berasal dari luar Provinsi Lampung juga menjadi kelompok prioritas. Kuota berikutnya dialokasikan bagi mahasiswa baru asal kabupaten/kota di Provinsi Lampung, kecuali Kota Bandar Lampung. Apabila kuota belum terpenuhi, kesempatan dibuka bagi mahasiswa baru lainnya.

Untuk biaya hunian, mahasiswa dikenakan sewa sebesar Rp200.000 per bulan yang dibayarkan untuk satu tahun. Informasi lengkap terkait pendaftaran dan pengelolaan asrama dapat diakses melalui laman resmi: http://asrama.itera.ac.id/
Dalam proses seleksi, prioritas diberikan kepada mahasiswa baru penerima Kartu Indonesia Pintar–Kuliah (KIP-K) yang telah mendaftar melalui akun Data Induk Mahasiswa (DIM). Selain itu, mahasiswa baru yang berasal dari luar Provinsi Lampung juga menjadi kelompok prioritas
Arief menambahkan, pengembangan asrama juga diarahkan pada peningkatan fasilitas dan aktivitas olahraga sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa secara holistik. Pengelola menyediakan sarana olahraga seperti lapangan basket dan badminton, memanfaatkan ruang terbuka untuk aktivitas fisik, serta memperkuat budaya olahraga bersama di lingkungan asrama. Selain itu, berbagai kegiatan keagamaan juga digelar seperti Dormitory Quranic Festival pada Ramadhan 1447, perayaan hari paskah, ibadah padang bagi umat kristiani.

Keberadaan asrama diharapkan menjadi fasilitas strategis bagi mahasiswa, khususnya yang berasal dari luar daerah, untuk memperoleh hunian yang aman, terjangkau, dan dekat dengan lingkungan akademik. Lebih dari itu, asrama diproyeksikan sebagai ruang pembinaan kehidupan bersama, tempat mahasiswa belajar beradaptasi, bersosialisasi, serta menumbuhkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial.
Tim Liputan
Penulis: Andre Ramadhani (Teknik Material) dan Rudiyansyah
Fotografer : Arfan Ismail, Dzaky Ardi Nugroho

