{"id":37677,"date":"2025-12-09T09:42:10","date_gmt":"2025-12-09T02:42:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.itera.ac.id\/?p=37677"},"modified":"2025-12-09T10:01:04","modified_gmt":"2025-12-09T03:01:04","slug":"tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/","title":{"rendered":"Tren\u00a0Tumbler\u00a0sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan"},"content":{"rendered":"<div class=\"pf-content\"><p><strong>Penulis :\u00a0<\/strong> Rinda Gusvita, S.T.P., M.Sc.<br \/>\nDosen Program Studi Teknik Industri<\/p>\n<p>Di tengah gelombang kesadaran global akan krisis iklim dan isu lingkungan,\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0atau botol minum yang dapat digunakan berulang kali telah muncul sebagai ikon penting dari gerakan ramah lingkungan. Tindakan sederhana membawa wadah sendiri untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai seringkali dianggap sebagai bentuk advokasi pribadi terhadap keberlanjutan. Namun, dalam budaya konsumsi modern yang didominasi oleh merek dan gaya hidup, <em>tumbler<\/em> telah bertransformasi melampaui jati dirinya sebagai barang fungsional. Ia kini menempati ruang yang sama dengan barang mewah lainnya (seperti sepatu, jam tangan, atau tas) di mana nilai\u00a0simbolis\u00a0dan\u00a0status sosial justru yang paling diangkat oleh strategi pemasaran.<\/p>\n<p><em>Tumbler<\/em>\u00a0kini bukan lagi sekadar botol. Merek-merek kenamaan telah berhasil memposisikan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0tidak hanya sebagai alternatif ramah lingkungan, tetapi juga sebagai\u00a0penanda identitas\u00a0dan\u00a0status sosial\u00a0bagi pemiliknya. Melalui desain yang atraktif, edisi terbatas, dan harga premium,\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0telah diangkat nilainya menjadi objek kapitalisme simbolis. Mereka sudah jadi\u00a0barang\u00a0<em>hype<\/em>, dirilis dalam edisi terbatas, dan harganya sering kali bikin dompet menjerit.<\/p>\n<p>Generasi sekarang kena mental\u00a0<em>Fear of Missing Out<\/em>\u00a0(FOMO)\u00a0parah. Mereka berbondong-bondong beli\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0merek tertentu yang lagi\u00a0viral\u00a0di TikTok atau Instagram bukan karena butuh, tapi karena\u00a0ogah dibilang ketinggalan zaman\u00a0atau\u00a0<em>unaware<\/em>. Intinya, <em>tumbler<\/em> ini dipakai untuk nge-<em>flex<\/em> (pamer). Tindakan membawa\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0mahal di\u00a0<em>coffeeshop<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>gym<\/em>\u00a0lebih tentang\u00a0validasi sosial\u00a0dibanding advokasi lingkungan. Ironi mendalam muncul ketika hasrat konsumsi untuk memiliki\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0terbaru atau termahal bertentangan dengan prinsip inti lingkungan:\u00a0mengurangi konsumsi\u00a0(Princen, 2005). Ketika motivasi utama kepemilikan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0bergeser dari fungsionalitas dan kepedulian lingkungan menjadi simbolisme status, maka terjadi\u00a0kesenjangan antara nilai yang terlihat dan realita perilaku sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>Ironi dan Bencana Lingkungan<\/strong><\/p>\n<p>Apabila penggunaan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0hanya sebatas aksesori\u00a0<em>fashion<\/em>\u00a0tanpa diikuti perubahan mendalam, ia berisiko menjadi <em>greenwashing<\/em>\u00a0di tingkat personal. Ini adalah sebuah\u00a0<em>lip service<\/em>\u00a0atau omong kosong yang menutupi perilaku konsumtif lainnya. Dalam konteks ini, sisi lain respon warganet terhadap insiden viral seperti <em>tumbler<\/em> bermerek yang tertinggal di transportasi umum menjadi cerminan nyata bahwa objek tersebut dianggap sebagai barang bermerek namun mudah diganti dan dibeli kembali, bukan barang fungsional yang dijaga.<\/p>\n<blockquote>\n<h3><em>Tumbler<\/em>\u00a0kini bukan lagi sekadar botol. Merek-merek kenamaan telah berhasil memposisikan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0tidak hanya sebagai alternatif ramah lingkungan, tetapi juga sebagai\u00a0penanda identitas\u00a0dan\u00a0status sosial\u00a0bagi pemiliknya.<\/h3>\n<\/blockquote>\n<p>Padahal, penggunaan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0seharusnya menjadi\u00a0pintu gerbang\u00a0untuk menghayati advokasi nilai yang lebih tinggi, menghubungkan penggunanya secara sadar dengan dampak dari\u00a0industri ekstraktif. <em>Tumbler<\/em>, terlepas dari bahan pembuatannya (plastik, kaca, atau\u00a0<em>stainless steel<\/em>), pada dasarnya berasal dari proses ekstraksi sumber daya alam, seperti penambangan bijih logam, minyak, atau pasir (Jahrl, 2023).<\/p>\n<p>Sialnya kasus\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0ini mencuat di saat yang sama dengan kondisi bencana mulai dari banjir besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (yang dikaitkan dengan alih fungsi lahan dan deforestasi), disusul oleh banjir di Malang dan Jawa Barat, hingga kenaikan permukaan air laut (rob) yang signifikan di pesisir Jakarta yang merupakan manifestasi nyata dan terkonfirmasi dari krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Kejadian ini meningkatkan kesadaran akan dampak buruk\u00a0logging\u00a0dan\u00a0pertambangan\u00a0yang berhubungan erat dengan produksi material. Konsumsi yang tidak terkontrol, bahkan untuk produk yang &#8216;ramah lingkungan&#8217;, akan selalu memicu kerusakan lingkungan di hulu.<\/p>\n<p>Inilah momen di mana nilai karbon nol (<em>net-zero carbon<\/em>) menjadi relevan. Sebuah\u00a0<em>tumbler<\/em>, baik murah maupun mahal, memiliki masa pakai minimal yang harus dilampaui agar energi, air, dan bahan baku yang digunakan dalam pembuatannya menjadi\u00a0setara\u00a0dengan menghindari penggunaan botol sekali pakai (Cole et al., 2011). Studi\u00a0<em>Life Cycle Assessment<\/em>\u00a0(LCA) menunjukkan bahwa\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0harus digunakan ratusan hingga ribuan kali, tergantung bahan dan metode produksi, agar jejak karbonnya menjadi lebih baik daripada penggunaan botol PET sekali pakai. Dengan demikian,\u00a0harga atau merek tidak relevan. Hal yang penting adalah\u00a0durasi penggunaan\u00a0dan\u00a0konsistensi perilaku.<\/p>\n<h3>Titik Impas Lingkungan<\/h3>\n<p>Terlepas dari mereknya, setiap\u00a0<em>tumbler<\/em> (terbuat dari plastik, kaca, atau\u00a0<em>stainless steel<\/em>) memiliki jejak karbon awalyang signifikan karena proses\u00a0industri ekstraktif\u00a0(penambangan, pengolahan, manufaktur). Agar penggunaan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0benar-benar ramah lingkungan, ia harus mencapai\u00a0Titik Impas Lingkungan (<em>Environmental Break-Even Point<\/em>)\u00a0atau\u00a0masa pakai minimal\u00a0di mana emisi yang dihemat dari tidak menggunakan botol plastik sekali pakai (CO<sub>2<\/sub>\u200b\u00a0dan energi) setara dengan emisi yang dikeluarkan saat pembuatannya.<\/p>\n<p>Studi Cole et al. (2011) dan Jahrl (2023) memberikan fakta bahwa masa pakai minimal\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0sangat bervariasi tergantung bahan baku, metode produksi, dan jenis botol sekali pakai yang digantikan. Untuk plastik (baik tritan maupun PP) perkiraan pemakaian minimalnya adalah 10-50 kali. Bahan ini paling cepat mencapai impas karena energi produksinya relative rendah. Lalu bahan kaca dan aluminium perkiraan durasi pemakaian minimalnya adalah 50-150 kali karena membutuhkan lebih banyak energi untuk pemrosesan bahan baku. Selanjutnya bahan yang digadang-gadang mempunyai sifat yang paling aman, baja tahan karat atau <em>stainless stell <\/em>harus digunakan minimal 150-1.000 kali. <em>Stainless steel m<\/em>emiliki jejak karbon awal tertinggi karena proses penambangan dan peleburan.<\/p>\n<p>Angka-angka ini menunjukkan bahwa\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0<em>stainless steel<\/em>\u00a0yang mahal, jika hanya digunakan 10 kali lalu hilang atau sekedar dikoleksi, justru\u00a0lebih merusak\u00a0lingkungan daripada menggunakan 10 botol plastik sekali pakai. Artinya, selama\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0mahal hanya menjadi barang koleksi atau status yang mudah diabaikan, ia gagal mencapai titik impas dan hanya menjadi\u00a0<em> greenwashing<\/em>\u00a0di tingkat personal.<\/p>\n<p><em>Ngomong-ngomong, <\/em>statemen ini bukan dukungan terhadap Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Penting untuk digarisbawahi bahwa analisis Titik Impas Lingkunganyang dibahas di atas tidak serta merta mendukung anggapan bahwa konsumsi AMDK sekali pakai selalu menjadi opsi yang lebih baik. Angka-angka konkret mengenai masa pakai minimal\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0di atas hanya berfokus pada\u00a0perhitungan bahan baku botol, yakni membandingkan jejak karbon dari material yang digunakan untuk membuat\u00a0<em>tumbler<\/em>. Pembahasan ini belum menyentuh aspek-aspek krusial lain dalam rantai nilai AMDK yang justru memperburuk masalah lingkungan dan sosial, antara lain: 1) Kegagalan\u00a0<em>Extended Producer Responsibility<\/em>\u00a0(EPR):\u00a0Hingga kini, banyak perusahaan produsen AMDK belum sepenuhnya mempraktikkan kewajiban EPR secara efektif terkait dengan pengelolaan sampah pasca-konsumsi produk mereka, menyebabkan polusi plastik massal di lingkungan, 2) Eksploitasi Sumber Daya Air:\u00a0Isu yang lebih besar adalah eksploitasi air itu sendiri. Proses pengambilan air dari mata air atau air tanah untuk dikemas berpotensi serius merusak ekosistem lokal, mengurangi debit air alami, dan membatasi akses warga sekitar terhadap sumber air bersih, 3) Transportasi dan Distribusi:\u00a0Analisis LCA yang lengkap untuk AMDK juga harus mencakup jejak karbon dari transportasi air dalam kemasan dari pabrik ke konsumen, yang seringkali jauh lebih besar daripada jejak karbon botol\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0yang hanya dibeli sekali.<\/p>\n<blockquote>\n<h3>Agar penggunaan\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0benar-benar ramah lingkungan, ia harus mencapai\u00a0Titik Impas Lingkungan (<em>Environmental Break-Even Point<\/em>)\u00a0atau\u00a0masa pakai minimal\u00a0di mana emisi yang dihemat dari tidak menggunakan botol plastik sekali pakai (CO<sub>2<\/sub>\u200b\u00a0dan energi) setara dengan emisi yang dikeluarkan saat pembuatannya.<\/h3>\n<\/blockquote>\n<p>Oleh karena itu, argumen dalam tulisan ini adalah kritik terhadap\u00a0perilaku konsumtif yang berlebihan terhadap\u00a0<em>tumbler<\/em>, bukan pembenaran terhadap praktik bisnis AMDK yang eksploitatif dan belum bertanggung jawab.\u00a0Penggunaan\u00a0<em>tumbler <\/em>yang konsisten\u00a0tetap merupakan tindakan yang secara fundamental lebih baik, asalkan dilakukan dengan kesadaran akan tanggung jawab pemakaiannya.<\/p>\n<p><em>Tumbler<\/em>\u00a0dapat menjadi pengingat harian (sebuah\u00a0&#8220;pengait&#8221;\u00a0perilaku) akan isu global seperti perubahan iklim dan bencana alam yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan. Namun, simbolisme ini harus berjalan seiring dengan realita untuk mengurangi konsumsi secara umum, merawat barang yang dimiliki, dan mendasarkan perilaku pada etika ekologis yang lebih dalam, bukan sekadar\u00a0<em>fashion statement<\/em>. Selama nilai yang disimbolkan sejalan dengan perilaku sehari-hari, yaitu\u00a0mengurangi, menggunakan kembali secara konsisten, dan menghayati keterbatasan sumber daya, maka tren\u00a0<em>tumbler<\/em>\u00a0dapat melampaui ironinya dan benar-benar berkontribusi pada advokasi lingkungan yang bermakna. Jika tidak, ia hanya akan menjadi\u00a0<em>green consumerism<\/em>\u00a0yang hampa, sekadar\u00a0omong kosong (<em>bullshit<\/em>)\u00a0yang dibalut merek.<\/p>\n<p>Dengan mengaitkan hebohnya kejadian tumbler yang tertinggal di kereta dengan kenyataan bencana di berbagai wilayah di Indonesia, kita melihat kesenjangan moral yang besar. Sementara kita sibuk dengan simbol status yang mudah hilang hingga mengharuskan instansi besar mengambil tindakan cepat, alam justru sedang mengirimkan sinyal bahaya yang nyata. Kepedulian atas bencana alam ini menuntut agar <em>tumbler<\/em> bukan hanya menjadi aksesoris, tetapi menjadi objek yang mengingatkan kita untuk hidup dengan lebih bertanggung jawab, lebih sedikit mengonsumsi, merasa cukup, dan lebih menghargai sumberdaya yang terbatas.<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Cole, C., et al. (2011).\u00a0<em>Life Cycle Assessment of Refillable and Single-Use Water Bottles<\/em>.\u00a0Jurnal:\u00a0<em>International Journal of Life Cycle Assessment<\/em>.<\/li>\n<li>Jahrl, I. (2023).\u00a0<em>Sustainability Assessment of Reusable and Single-use Beverage Bottles: A Review of Life Cycle Studies<\/em>.\u00a0Jurnal:\u00a0<em>Environmental Sciences Europe, 35<\/em>(1).<\/li>\n<li>Princen, T. (2005).\u00a0<em>The Logic of Sufficiency<\/em>. MIT Press.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis :\u00a0 Rinda Gusvita, S.T.P., M.Sc. Dosen Program Studi Teknik Industri Di tengah gelombang kesadaran global akan krisis iklim dan isu lingkungan,\u00a0tumbler\u00a0atau botol minum yang dapat digunakan berulang kali telah muncul sebagai ikon penting dari gerakan ramah lingkungan. Tindakan sederhana membawa wadah sendiri untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai seringkali dianggap sebagai bentuk advokasi pribadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":37681,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[590,629],"tags":[46,22,2143],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tren\u00a0Tumbler\u00a0sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan - ITERA<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Institut Teknologi Sumatera (ITERA) merupakan perguruan tinggi negeri baru yang berdiri sejak 6 Oktober 2014 dan berlokasi di Lampung.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tren\u00a0Tumbler\u00a0sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Institut Teknologi Sumatera (ITERA) merupakan perguruan tinggi negeri baru yang berdiri sejak 6 Oktober 2014 dan berlokasi di Lampung.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ITERA\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/itera.official\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-09T02:42:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-09T03:01:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Rinda-Gusvita.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1422\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@itera_PTN\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@itera_PTN\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/\",\"name\":\"ITERA\",\"description\":\"Smart, Friendly, and Forest Campus\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Rinda-Gusvita.jpg\",\"width\":1422,\"height\":800},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\",\"name\":\"[:id]Tren\\u00a0Tumbler\\u00a0sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan[:] - ITERA\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2025-12-09T02:42:10+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-09T03:01:04+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#\/schema\/person\/be7b021e7902a6f2df6ec408cd478d91\"},\"description\":\"Institut Teknologi Sumatera (ITERA) merupakan perguruan tinggi negeri baru yang berdiri sejak 6 Oktober 2014 dan berlokasi di Lampung.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/tren-tumbler-sebagai-simbol-status-dan-ironi-kepedulian-lingkungan\/\",\"name\":\"Tren\\u00a0Tumbler\\u00a0sebagai Simbol Status dan Ironi Kepedulian Lingkungan\"}}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#\/schema\/person\/be7b021e7902a6f2df6ec408cd478d91\",\"name\":\"Editor : Rudiyansyah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/56e8cca17b325f7af4b8d980dc0345fd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Editor : Rudiyansyah\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37677"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37677"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37677\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37680,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37677\/revisions\/37680"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37681"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}