{"id":11785,"date":"2020-11-16T11:23:05","date_gmt":"2020-11-16T04:23:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.itera.ac.id\/?p=11785"},"modified":"2020-11-16T11:59:31","modified_gmt":"2020-11-16T04:59:31","slug":"fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Fenomena La Nina Picu Hujan Ekstrem di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div class=\"pf-content\"><p>[vc_row][vc_column][vc_column_text]ITERA NEWS. Memasuki November, Indonesia mulai mengalami musim hujan. Datangnya musim hujan umumnya berkaitan dengan peralihan angin timuran yang bertiup dari benua Australia (Monsun Timur) menjadi angin baratan yang bertiup dari benua Asia (Monsun barat). Pada dasarnya, angin ini membawa massa udara yang mengandung uap air karena melewati kawasan laut yang luas. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia menjadi lebih basah.<\/p>\n<p>Dosen Program Studi Sains, Atmosfer dan Keplanetan (SAP) Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Alvin Pratama, S.Si., M.T. menjelaskan, posisi Indonesia secara geografis memiliki karakter yang unik karena berada di antara benua Asia dan Australia; Samudera Hindia dan Samudera Pasifik; terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur; dilalui garis khatulistiwa; serta dikelilingi oleh lautan yang luas. Hal ini menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.<\/p>\n<p>Dinamika iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai fenomena global seperti ENSO (El Nino Souther Oscillation) dan IOD (Indian ocean dipole); fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, ITCZ (Inter tropical convergence zone); dan faktor lokal yang disebabkan karena topografi daratan Indonesia yang terdiri dari pegunungan, lembah, dan banyak pantai.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11788\" style=\"width: 1024px\"  class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-scaled.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-11788 size-large\" src=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-1024x646.jpg\" alt=\"Mahasiswa ITERA melakukan pengamatan curah hujan di Taman Alat UPT MKG ITERA, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. UPT MKG\" width=\"1024\" height=\"646\" srcset=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-1024x646.jpg 1024w, https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-300x189.jpg 300w, https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-768x484.jpg 768w, https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-1536x968.jpg 1536w, https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/IMA_0259-2048x1291.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Mahasiswa ITERA melakukan pengamatan curah hujan di Taman Alat UPT MKG ITERA, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. UPT MKG<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mengutip data klimatologi BMKG, Alvin menyebut, peralihan angin monsun ini diprediksi akan dimulai dari wilayah Sumatera pada Oktober 2020, lalu wilayah Kalimantan dan diikuti sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara pada November 2020 dan sepenuhnya akan dominan di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 hingga Maret 2021. Namun, satu hal yang menjadi perhatian, pada November 2020, hingga awal tahun 2021 beberapa wilayah di Indonesia berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat adanya fenomena La Nina.<\/p>\n<blockquote>\n<h3>Fenomena La Nina\u00a0 berkaitan dengan lebih dinginnya suhu muka laut di Pasifik Ekuator bagian Timur dan lebih panasnya suhu muka laut wilayah Indonesia. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya suplai uap air untuk pertumbuhan awan hujan dan meningkatkan intensitas curah hujan di wilayah Indonesia.\u00a0 Fenomena La Nina diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Desember 2020 dan hingga awal tahun 2021.<\/h3>\n<\/blockquote>\n<p>Fenomena La Nina\u00a0 berkaitan dengan lebih dinginnya suhu muka laut di Pasifik Ekuator bagian Timur dan lebih panasnya suhu muka laut wilayah Indonesia. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya suplai uap air untuk pertumbuhan awan hujan dan meningkatkan intensitas curah hujan di wilayah Indonesia.\u00a0 Fenomena La Nina diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Desember 2020 dan hingga awal tahun 2021.<\/p>\n<p>\u201cPada tahun 2020 hingga 2021 ini, potensi terjadinya intensitas curah hujan tinggi di beberapa wilayah di Indonesia sangat besar. Hal ini juga didorong dari hasil pengamatan anomali suhu muka laut pada zona ekuator di Samudera Pasifik yang menunjukkan adanya fenomena La-Nina,\u201d terang Alvin dengan keahlian di bidang Meteorologi Lingkungan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_11787\" style=\"width: 918px\"  class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/La-Nina.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-11787\" src=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/La-Nina.jpg\" alt=\"Hasil prediksi La Nina oleh BMKG dan beberapa pusat layanan iklim dunia\" width=\"918\" height=\"646\" srcset=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/La-Nina.jpg 476w, https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/La-Nina-300x211.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 918px) 100vw, 918px\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-caption-text\">Hasil prediksi La Nina oleh BMKG dan beberapa pusat layanan iklim dunia<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Potensi kejadian La Nina ini juga didukung dari hasil simulasi yang dilakukan oleh BMKG dan beberapa pusat layanan iklim dunia. Dari hasil tersebut diperkirakan bahwa kejadian La Nina dapat terus berkembang hingga mencapai intensitas moderate pada akhir tahun 2020 dan diperkirakan mulai meluruh pada bulan Februari dan berakhir disekitar bulan Maret-April 2021.<\/p>\n<p>Khusus untuk wilayah Lampung sendiri, Alvin menyebut, dari hasil pemantauan stasiun meteorologi di taman alat UPT MKG ITERA, diketahui bahwa total curah hujan pada bulan Oktober sudah masuk kategori menengah dengan jumlah 112,6 mm. Hal ini berpotensi terus mengalami peningkatan, terutama menjelang pergantian tahun yang juga merupakan efek adanya fenomena La Nina.<\/p>\n<p>Menindaklanjuti hal tersebut, Alvin mengharapkan pemerintah, masyarakat maupun stakeholder terkait bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi seperti curah hujan ekstrem, bencana hidrologi seperti banjir, longsor, angin kencang, dan lain sebagainya. <strong>[Humas]<\/strong>[\/vc_column_text][\/vc_column][\/vc_row][vc_row][vc_column][\/vc_column][\/vc_row]<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[vc_row][vc_column][vc_column_text]ITERA NEWS. Memasuki November, Indonesia mulai mengalami musim hujan. Datangnya musim hujan umumnya berkaitan dengan peralihan angin timuran yang bertiup dari benua Australia (Monsun Timur) menjadi angin baratan yang bertiup dari benua Asia (Monsun barat). Pada dasarnya, angin ini membawa massa udara yang mengandung uap air karena melewati kawasan laut yang luas. Hal ini menyebabkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":11786,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[629],"tags":[838,46,22,837],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v14.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Fenomena La Nina Picu Hujan Ekstrem di Indonesia - ITERA<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Fenomena La Nina diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Desember 2020 dan hingga awal tahun 2021\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow\" \/>\n<meta name=\"googlebot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<meta name=\"bingbot\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Fenomena La Nina Picu Hujan Ekstrem di Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fenomena La Nina diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Desember 2020 dan hingga awal tahun 2021\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ITERA\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/itera.official\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-16T04:23:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-11-16T04:59:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Alvin-SAP.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"637\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"442\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@itera_PTN\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@itera_PTN\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/\",\"name\":\"ITERA\",\"description\":\"Smart, Friendly, and Forest Campus\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Alvin-SAP.jpg\",\"width\":637,\"height\":442},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\",\"name\":\"[:id]Fenomena La Nina Picu Hujan Ekstrem di Indonesia[:] - ITERA\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2020-11-16T04:23:05+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-16T04:59:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#\/schema\/person\/be7b021e7902a6f2df6ec408cd478d91\"},\"description\":\"Fenomena La Nina diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Desember 2020 dan hingga awal tahun 2021\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/fenomena-la-nina-picu-hujan-ekstrem-di-indonesia\/\",\"name\":\"Fenomena La Nina Picu Hujan Ekstrem di Indonesia\"}}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#\/schema\/person\/be7b021e7902a6f2df6ec408cd478d91\",\"name\":\"Editor : Rudiyansyah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/56e8cca17b325f7af4b8d980dc0345fd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Editor : Rudiyansyah\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11785"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11785"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11785\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11792,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11785\/revisions\/11792"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11785"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}