{"id":2529,"date":"2026-07-28T09:16:24","date_gmt":"2026-07-28T02:16:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/?p=2529"},"modified":"2026-07-28T09:16:26","modified_gmt":"2026-07-28T02:16:26","slug":"tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/","title":{"rendered":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dhuha. Jumlah minimalnya dua rakaat dan pelaksanaannya mengikuti tata cara sholat sunnah pada umumnya. Waktu pelaksanaannya dimulai setelah matahari terbit dan meninggi, bukan tepat saat matahari muncul di ufuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu Dhuha berakhir sebelum masuk waktu Zuhur. Di antara rentang waktu tersebut terdapat saat yang lebih utama, yaitu ketika matahari semakin tinggi dan panasnya mulai terasa. Waktu pastinya berbeda di setiap wilayah sehingga perlu memeriksa jadwal matahari terbit dan Zuhur setempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Panduan berikut menjelaskan niat, waktu, jumlah rakaat, langkah pelaksanaan, pilihan surat, doa, keutamaan, serta kesalahan yang sering terjadi. Semoga memudahkan umat Islam yang ingin memulai atau memperbaiki amalan sholat Dhuha sesuai kemampuan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Sholat Dhuha?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata dhuha dalam bahasa Arab menunjuk pada waktu pagi ketika sinar matahari sudah naik dan cahayanya menyebar. Dari penamaan waktu itulah sholat sunnah yang dikerjakan pada rentang tersebut disebut sholat Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedudukannya adalah sholat sunnah. Pelaksanaannya bernilai ibadah, sedangkan meninggalkannya tidak menimbulkan dosa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Makna paling menonjol dari ibadah ini adalah rasa syukur. Rasulullah saw. mengaitkan dua rakaat Dhuha dengan sedekah yang semestinya dikeluarkan untuk setiap persendian tubuh pada setiap pagi. Tubuh yang masih dapat digerakkan adalah nikmat yang perlu disyukuri, dan sholat Dhuha menjadi salah satu bentuk syukurnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, sholat Dhuha tidak tepat disederhanakan menjadi ritual untuk menjadi kaya. Permohonan rezeki memang boleh disampaikan setelah sholat, sebagaimana doa lain, tetapi inti ibadahnya tetap berupa penghambaan dan syukur kepada Allah Swt.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hukum Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hukum sholat Dhuha adalah sunnah. Sebagian ulama menilainya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan, dengan alasan adanya wasiat khusus Rasulullah saw. kepada sahabat dan pujian beliau terhadap amalan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dasar yang sering disebut adalah riwayat Abu Hurairah r.a. yang menceritakan tiga wasiat kekasihnya, Rasulullah saw.: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan witir sebelum tidur. Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari nomor 1178 dan Shahih Muslim nomor 721, dan berderajat sahih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wasiat tersebut menunjukkan kedudukan Dhuha sebagai amalan yang dijaga, bukan sebagai kewajiban. Seorang Muslim yang belum sempat mengerjakannya tidak berdosa, dan tidak dibenarkan menganggap Dhuha sebagai sholat wajib atau menyalahkan orang lain yang meninggalkannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dalil Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Dalil<\/th><th>Sumber<\/th><th>Isi Ringkas<\/th><th>Pelajaran<\/th><\/tr><tr><td>Sedekah untuk persendian<\/td><td>Shahih Muslim no. 720, dari Abu Dzar r.a. (sahih)<\/td><td>Setiap persendian perlu disedekahi setiap pagi, dan dua rakaat Dhuha mencukupi semuanya<\/td><td>Bentuk syukur<\/td><\/tr><tr><td>Wasiat dua rakaat Dhuha<\/td><td>Shahih al-Bukhari no. 1178 dan Shahih Muslim no. 721, dari Abu Hurairah r.a. (sahih)<\/td><td>Rasulullah saw. mewasiatkan dua rakaat Dhuha<\/td><td>Menjaga sunnah<\/td><\/tr><tr><td>Sholat Awwabin<\/td><td>Shahih Muslim no. 748, dari Zaid bin Arqam r.a. (sahih)<\/td><td>Sholat orang-orang yang kembali taat dikerjakan ketika anak unta merasakan panas pasir<\/td><td>Waktu utama<\/td><\/tr><tr><td>Pelaksanaan beberapa rakaat<\/td><td>Shahih Muslim no. 719, dari Aisyah r.a. (sahih)<\/td><td>Nabi mengerjakan Dhuha empat rakaat dan menambah sesuai kehendak Allah Swt.<\/td><td>Keluwesan jumlah<\/td><\/tr><tr><td>Delapan rakaat pada hari penaklukan Makkah<\/td><td>Shahih al-Bukhari no. 1103 dan Shahih Muslim no. 336, dari Ummu Hani&#8217; r.a. (sahih)<\/td><td>Nabi sholat delapan rakaat pada waktu Dhuha<\/td><td>Dasar praktik delapan rakaat<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Waktu Sholat Dhuha dan Batas Akhirnya<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu Dhuha tidak dimulai tepat pada saat matahari terbit. Terdapat larangan mengerjakan sholat ketika matahari sedang terbit sampai ia naik, sebagaimana disebutkan dalam riwayat &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir r.a. dalam Shahih Muslim nomor 831 tentang tiga waktu yang dilarang untuk sholat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah matahari meninggi, larangan tersebut berakhir dan waktu Dhuha dimulai. Sebagian panduan praktis memakai jeda sekitar 15\u201320 menit setelah terbit sebagai perkiraan aman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jeda itu hanyalah pendekatan praktis. Angkanya dapat berbeda menurut lokasi, musim, dan kondisi cakrawala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu Dhuha berakhir ketika matahari tergelincir, yaitu sesaat sebelum masuk waktu Zuhur. Karena itu, sebaiknya sholat Dhuha tidak dikerjakan terlalu mepet dengan azan Zuhur.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Tahap Waktu<\/th><th>Status<\/th><th>Penjelasan<\/th><\/tr><tr><td>Saat matahari terbit<\/td><td>Waktu larangan<\/td><td>Jangan langsung mengerjakan Dhuha<\/td><\/tr><tr><td>Matahari mulai meninggi<\/td><td>Awal waktu Dhuha<\/td><td>Dhuha mulai dapat dilakukan<\/td><\/tr><tr><td>Matahari semakin tinggi<\/td><td>Waktu utama<\/td><td>Berkaitan dengan hadis sholat Awwabin<\/td><\/tr><tr><td>Menjelang Zuhur<\/td><td>Akhir waktu<\/td><td>Hindari terlalu dekat dengan masuk Zuhur<\/td><\/tr><tr><td>Setelah azan Zuhur<\/td><td>Waktu Dhuha selesai<\/td><td>Masuk waktu sholat lain<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jam Berapa Sholat Dhuha Dilakukan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jam pelaksanaan Dhuha berbeda antarwilayah. Waktu terbit matahari di Aceh, Jakarta, Makassar, dan Jayapura tidak sama, bahkan berubah dari hari ke hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, patokan yang tepat bukan jam populer seperti pukul 07.00 atau 08.00, melainkan jadwal terbit matahari dan waktu Zuhur di daerah masing-masing. Jadwal resmi Kementerian Agama Republik Indonesia atau sumber astronomi tepercaya dapat digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai contoh sederhana: jika matahari terbit pukul 05.50, waktu aman untuk mulai Dhuha dapat diperkirakan setelah matahari meninggi, misalnya sekitar 15\u201320 menit kemudian. Waktu pastinya tetap mengikuti kondisi dan jadwal wilayah setempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh tersebut hanya ilustrasi perhitungan, bukan penetapan waktu yang berlaku untuk seluruh wilayah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Waktu Terbaik Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riwayat Zaid bin Arqam r.a. dalam Shahih Muslim nomor 748 menyebut sholat orang-orang yang kembali taat (awwabin) dikerjakan ketika anak unta sudah merasakan panasnya pasir. Ungkapan ini menggambarkan waktu ketika matahari sudah cukup tinggi dan panas mulai terasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sini para ulama membedakan dua hal: waktu sah dan waktu utama. Waktu sah dimulai sejak matahari meninggi, sedangkan waktu utama berada pada paruh akhir rentang Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu dicatat bahwa gambaran tersebut bukan satu jam tetap. Kondisi wilayah dan musim membuat jamnya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Umat Islam yang hanya memiliki kesempatan pada awal waktu Dhuha tetap dapat mengerjakannya, dan sholatnya tetap sah serta bernilai ibadah. Kesempatan yang ada lebih baik dimanfaatkan daripada ditinggalkan karena menunggu waktu yang dianggap paling utama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perbedaan Sholat Isyraq dan Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Bagian<\/th><th>Sholat Isyraq<\/th><th>Sholat Dhuha<\/th><\/tr><tr><td>Waktu<\/td><td>Awal waktu setelah matahari terbit dan meninggi<\/td><td>Membentang hingga sebelum Zuhur<\/td><\/tr><tr><td>Penamaan<\/td><td>Berkaitan dengan pelaksanaan pada awal waktu<\/td><td>Nama umum sholat pada waktu Dhuha<\/td><\/tr><tr><td>Jumlah rakaat<\/td><td>Umumnya dua rakaat<\/td><td>Minimal dua rakaat<\/td><\/tr><tr><td>Hukum<\/td><td>Sunnah<\/td><td>Sunnah<\/td><\/tr><tr><td>Perbedaan pendapat<\/td><td>Ada<\/td><td>Ada<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian ulama memandang Isyraq sebagai sholat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktunya, sehingga keduanya bukan dua ibadah yang terpisah. Sebagian penjelasan lain membedakan keduanya berdasarkan waktu dan penyebutannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan tersebut berasal dari cara memahami hadis dan praktik para sahabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian pembahasan Isyraq dikaitkan dengan riwayat dalam Jami&#8217; at-Tirmidzi nomor 586 tentang orang yang sholat Subuh berjamaah lalu berzikir hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat. Derajat riwayat ini diperbincangkan: sebagian ulama menilainya hasan karena adanya jalur pendukung, sebagian lain menilainya lemah. Karena itu, keutamaan yang disebut di dalamnya sebaiknya disampaikan disertai keterangan status riwayatnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jumlah Rakaat Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jumlah minimal sholat Dhuha adalah dua rakaat, sebagaimana disebut dalam wasiat Rasulullah saw. kepada Abu Hurairah r.a. Jumlah ini sudah mencukupi untuk disebut telah mengerjakan Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Empat rakaat memiliki dasar dari riwayat Aisyah r.a. dalam Shahih Muslim nomor 719, yang juga menyebut adanya penambahan sesuai kehendak Allah Swt. Delapan rakaat memiliki dasar dari riwayat Ummu Hani&#8217; r.a. dalam Shahih al-Bukhari nomor 1103 dan Shahih Muslim nomor 336. Enam rakaat termasuk jumlah yang lazim dikerjakan sebagai kelipatan dua rakaat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun dua belas rakaat berkaitan dengan riwayat dalam Jami&#8217; at-Tirmidzi nomor 473 dan Sunan Ibnu Majah nomor 1380. At-Tirmidzi sendiri menyebut riwayat tersebut gharib, dan banyak ulama menilai sanadnya lemah. Karena itu, dua belas rakaat tidak tepat disebut sebagai batas mutlak tanpa menjelaskan kualitas riwayatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengenai batas maksimal, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan tersebut berasal dari cara memahami hadis dan praktik para sahabat. Yang lebih utama bagi pembaca adalah mengerjakannya dengan ikhlas dan konsisten sesuai kemampuan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Jumlah Rakaat<\/th><th>Status<\/th><th>Cara Pelaksanaan<\/th><th>Keterangan<\/th><\/tr><tr><td>2 rakaat<\/td><td>Minimal<\/td><td>Dua rakaat satu salam<\/td><td>Paling sederhana<\/td><\/tr><tr><td>4 rakaat<\/td><td>Boleh<\/td><td>Dua rakaat satu salam sebanyak dua kali<\/td><td>Memiliki dasar riwayat sahih<\/td><\/tr><tr><td>6 rakaat<\/td><td>Boleh<\/td><td>Tiga kali dua rakaat<\/td><td>Sesuai kemampuan<\/td><\/tr><tr><td>8 rakaat<\/td><td>Boleh<\/td><td>Empat kali dua rakaat<\/td><td>Memiliki dasar praktik<\/td><\/tr><tr><td>12 rakaat<\/td><td>Diperselisihkan<\/td><td>Enam kali dua rakaat<\/td><td>Riwayatnya dinilai lemah oleh banyak ulama<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dua Rakaat Sekali Salam atau Empat Rakaat Sekaligus?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Praktik yang paling umum di Indonesia adalah dua rakaat sekali salam, lalu diulang sesuai jumlah yang diinginkan. Cara ini paling mudah diingat dan paling kecil peluang kelirunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian ulama membahas kebolehan mengerjakan empat rakaat dengan satu salam untuk sholat sunnah mutlak pada siang hari, dan sebagian lain menguatkan pemisahan setiap dua rakaat. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan keduanya bersandar pada pemahaman terhadap dalil umum sholat sunnah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi pemula, cara paling mudah adalah mengerjakan dua rakaat lalu salam. Jika ingin menambah, ulangi dua rakaat berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Syarat Sah Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Syarat<\/th><th>Penjelasan<\/th><\/tr><tr><td>Suci dari hadas<\/td><td>Berwudhu atau bersuci sesuai ketentuan<\/td><\/tr><tr><td>Suci badan, pakaian, dan tempat<\/td><td>Bebas dari najis<\/td><\/tr><tr><td>Menutup aurat<\/td><td>Sesuai ketentuan sholat<\/td><\/tr><tr><td>Menghadap kiblat<\/td><td>Sesuai kemampuan<\/td><\/tr><tr><td>Sudah masuk waktu Dhuha<\/td><td>Tidak dilakukan saat waktu larangan<\/td><\/tr><tr><td>Mengetahui tata cara dasar<\/td><td>Agar rukun dapat dilakukan dengan tertib<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syarat sah sholat Dhuha mengikuti ketentuan umum sholat. Tidak ada syarat tambahan yang khusus berlaku untuk Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Rukun Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Rukun<\/th><th>Penjelasan<\/th><\/tr><tr><td>Niat<\/td><td>Di dalam hati<\/td><\/tr><tr><td>Takbiratul ihram<\/td><td>Membuka sholat<\/td><\/tr><tr><td>Berdiri bagi yang mampu<\/td><td>Pada sholat sunnah, berdiri lebih utama<\/td><\/tr><tr><td>Membaca Al-Fatihah<\/td><td>Pada setiap rakaat<\/td><\/tr><tr><td>Rukuk<\/td><td>Dengan tuma&#8217;ninah<\/td><\/tr><tr><td>Iktidal<\/td><td>Dengan tuma&#8217;ninah<\/td><\/tr><tr><td>Sujud dua kali<\/td><td>Dengan tuma&#8217;ninah<\/td><\/tr><tr><td>Duduk di antara dua sujud<\/td><td>Dengan tuma&#8217;ninah<\/td><\/tr><tr><td>Tasyahud akhir<\/td><td>Pada rakaat terakhir<\/td><\/tr><tr><td>Duduk tasyahud akhir<\/td><td>Sesuai ketentuan<\/td><\/tr><tr><td>Membaca shalawat<\/td><td>Pada tasyahud akhir<\/td><\/tr><tr><td>Salam<\/td><td>Mengakhiri sholat<\/td><\/tr><tr><td>Tertib<\/td><td>Sesuai urutan<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rincian rukun di atas mengikuti pengelompokan yang umum digunakan dalam mazhab Syafi&#8217;i dan lazim dipakai dalam buku tuntunan ibadah di Indonesia. Mazhab lain memiliki cara pengelompokan yang sedikit berbeda, terutama dalam memilah antara rukun dan kewajiban sholat, meskipun praktik gerakannya serupa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Persiapan Sebelum Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Memastikan waktu Dhuha sudah masuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Berwudhu.<\/li>\n\n\n\n<li>Memakai pakaian yang menutup aurat.<\/li>\n\n\n\n<li>Memilih tempat yang bersih.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghadap kiblat.<\/li>\n\n\n\n<li>Menenangkan diri sejenak.<\/li>\n\n\n\n<li>Menonaktifkan atau mengecilkan suara ponsel.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghadirkan niat beribadah karena Allah Swt.<\/li>\n\n\n\n<li>Menentukan jumlah rakaat sesuai kemampuan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Niat Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tempat niat berada di dalam hati, dan kehadirannya bersamaan dengan takbiratul ihram. Melafalkan niat bukan rukun sholat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian ulama membolehkan pelafalan niat sebagai sarana membantu hati menghadirkan maksud sholat. Sholat tetap sah ketika niat hanya ada di dalam hati tanpa dilafalkan, dan lafal niat tidak perlu dibaca dengan suara keras.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Niat Sholat Dhuha<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0623\u064f\u0635\u064e\u0644\u0650\u0651\u064a \u0633\u064f\u0646\u064e\u0651\u0629\u064e \u0627\u0644\u0636\u064f\u0651\u062d\u064e\u0649 \u0631\u064e\u0643\u0652\u0639\u064e\u062a\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0644\u0650\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u062a\u064e\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0649<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Ushalli sunnata-dhuha rak&#8217;ataini lillahi ta&#8217;ala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Aku berniat sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta&#8217;ala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu membaca: sesaat sebelum takbiratul ihram.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: doa umum sebagai bantuan menghadirkan niat; niat yang menjadi rukun berada di dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lafal niat merupakan sarana membantu menghadirkan niat. Inti niat berada di dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tata Cara Sholat Dhuha Dua Rakaat<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 1: Berdiri Menghadap Kiblat<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdiri tegak bagi yang mampu, menghadap kiblat, lalu menghadirkan niat di dalam hati untuk mengerjakan sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Swt.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 2: Takbiratul Ihram<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengangkat kedua tangan sesuai tuntunan sambil mengucapkan&nbsp;\u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0623\u064e\u0643\u0652\u0628\u064e\u0631\u064f&nbsp;(Allahu Akbar), kemudian meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri sesuai praktik yang diikuti. Setelah itu dianjurkan membaca doa iftitah, yang berstatus sunnah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Doa Iftitah<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0648\u064e\u062c\u064e\u0651\u0647\u0652\u062a\u064f \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u0650\u064a\u064e \u0644\u0650\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a \u0641\u064e\u0637\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627\u0648\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e \u062d\u064e\u0646\u0650\u064a\u0641\u064b\u0627 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u0631\u0650\u0643\u0650\u064a\u0646\u064e. \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0635\u064e\u0644\u064e\u0627\u062a\u0650\u064a \u0648\u064e\u0646\u064f\u0633\u064f\u0643\u0650\u064a \u0648\u064e\u0645\u064e\u062d\u0652\u064a\u064e\u0627\u064a\u064e \u0648\u064e\u0645\u064e\u0645\u064e\u0627\u062a\u0650\u064a \u0644\u0650\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e. \u0644\u064e\u0627 \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0628\u0650\u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u0623\u064f\u0645\u0650\u0631\u0652\u062a\u064f \u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas-samawati wal-ardha hanifan musliman wa ma ana minal-musyrikin. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-&#8216;alamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal-muslimin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: sunnah. Terdapat beberapa versi doa iftitah yang bersumber dari riwayat yang berbeda, dan pembaca dapat memilih salah satunya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 3: Membaca Al-Fatihah<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0628\u0650\u0633\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0670\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0650\u064a\u0645\u0650 \ufd3f\u0661\ufd3e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f \u0644\u0650\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e \ufd3f\u0662\ufd3e \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0670\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0650\u064a\u0645\u0650 \ufd3f\u0663\ufd3e \u0645\u064e\u0627\u0644\u0650\u0643\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u062f\u0650\u0651\u064a\u0646\u0650 \ufd3f\u0664\ufd3e \u0625\u0650\u064a\u064e\u0651\u0627\u0643\u064e \u0646\u064e\u0639\u0652\u0628\u064f\u062f\u064f \u0648\u064e\u0625\u0650\u064a\u064e\u0651\u0627\u0643\u064e \u0646\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u0650\u064a\u0646\u064f \ufd3f\u0665\ufd3e \u0627\u0647\u0652\u062f\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0635\u0650\u0651\u0631\u064e\u0627\u0637\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u062a\u064e\u0642\u0650\u064a\u0645\u064e \ufd3f\u0666\ufd3e \u0635\u0650\u0631\u064e\u0627\u0637\u064e \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064e\u0646\u0652\u0639\u064e\u0645\u0652\u062a\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u063a\u0652\u0636\u064f\u0648\u0628\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0636\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u0651\u064a\u0646\u064e \ufd3f\u0667\ufd3e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Bismillahir-rahmanir-rahim. Alhamdu lillahi rabbil-&#8216;alamin. Ar-rahmanir-rahim. Maliki yaumid-din. Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in. Ihdinash-shirathal-mustaqim. Shirathal-ladzina an&#8217;amta &#8216;alaihim ghairil-maghdhubi &#8216;alaihim wa lad-dhallin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: rukun, dibaca pada setiap rakaat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 4: Membaca Surat atau Ayat Al-Qur&#8217;an<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat atau ayat yang mudah dan sudah dihafal. Tidak ada surat tertentu yang wajib dibaca dalam sholat Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Surah Ad-Dhuha, Asy-Syams, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas boleh dibaca, tetapi tidak berstatus wajib. Membacanya adalah pilihan, bukan syarat sahnya sholat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 5: Rukuk<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengucapkan takbir, lalu membungkukkan badan dengan punggung dan kepala sejajar, kedua tangan memegang lutut, dan berhenti sejenak dengan tuma&#8217;ninah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u064a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u0650 \u0648\u064e\u0628\u0650\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Subhana rabbiyal-&#8216;azhimi wa bihamdih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung, dan segala puji bagi-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: sunnah, dibaca ketika rukuk.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 6: Iktidal<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bangkit dari rukuk sambil membaca tasmi&#8217;, kemudian berdiri tegak dengan tuma&#8217;ninah dan membaca tahmid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u0650\u0645\u064e\u0646\u0652 \u062d\u064e\u0645\u0650\u062f\u064e\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Sami&#8217;allahu liman hamidah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Allah mendengar orang yang memuji-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0631\u064e\u0628\u064e\u0651\u0646\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u064f<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Rabbana lakal-hamd.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: bacaan iktidal, dibaca saat bangkit dan berdiri setelah rukuk.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 7: Sujud Pertama<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengucapkan takbir, lalu bersujud dengan menempelkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kaki, disertai tuma&#8217;ninah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0633\u064f\u0628\u0652\u062d\u064e\u0627\u0646\u064e \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u064a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0628\u0650\u062d\u064e\u0645\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Subhana rabbiyal-a&#8217;la wa bihamdih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi, dan segala puji bagi-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: sunnah, dibaca ketika sujud.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 8: Duduk di Antara Dua Sujud<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bangkit dari sujud sambil bertakbir, lalu duduk dengan tenang dan tuma&#8217;ninah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0631\u064e\u0628\u0650\u0651 \u0627\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0631\u0652\u062d\u064e\u0645\u0652\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u062c\u0652\u0628\u064f\u0631\u0652\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0631\u0652\u0641\u064e\u0639\u0652\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0631\u0652\u0632\u064f\u0642\u0652\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0647\u0652\u062f\u0650\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0639\u064e\u0627\u0641\u0650\u0646\u0650\u064a \u0648\u064e\u0627\u0639\u0652\u0641\u064f \u0639\u064e\u0646\u0650\u0651\u064a<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Rabbighfir li warhamni wajburni warfa&#8217;ni warzuqni wahdini wa &#8216;afini wa&#8217;fu &#8216;anni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupkanlah kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan, dan maafkanlah aku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: doa yang dibaca saat duduk di antara dua sujud.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 9: Sujud Kedua<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersujud kembali dengan bacaan yang sama seperti sujud pertama, disertai tuma&#8217;ninah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 10: Berdiri untuk Rakaat Kedua<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bangkit sambil bertakbir, kemudian membaca Al-Fatihah dan surat atau ayat yang mudah, lalu melanjutkan rukuk, iktidal, dan dua sujud seperti rakaat pertama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 11: Tasyahud Akhir<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0627\u0644\u062a\u064e\u0651\u062d\u0650\u064a\u064e\u0651\u0627\u062a\u064f \u0644\u0650\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0644\u064e\u0648\u064e\u0627\u062a\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0637\u064e\u0651\u064a\u0650\u0651\u0628\u064e\u0627\u062a\u064f\u060c \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u064a\u064f\u0651 \u0648\u064e\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0628\u064e\u0631\u064e\u0643\u064e\u0627\u062a\u064f\u0647\u064f\u060c \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e\u060c \u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0644\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0670\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: At-tahiyyatu lillahi wash-shalawatu wath-thayyibat. Assalamu &#8216;alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu &#8216;alaina wa &#8216;ala &#8216;ibadillahish-shalihin. Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan &#8216;abduhu wa rasuluh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Segala penghormatan, keberkahan, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: rukun pada rakaat terakhir. Terdapat beberapa versi lafal tasyahud yang bersumber dari riwayat sahabat yang berbeda, dan seluruhnya dapat digunakan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Shalawat pada Tasyahud Akhir<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0635\u064e\u0644\u0650\u0651 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u064d \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0622\u0644\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u064d\u060c \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0635\u064e\u0644\u064e\u0651\u064a\u0652\u062a\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0622\u0644\u0650 \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e\u060c \u0648\u064e\u0628\u064e\u0627\u0631\u0650\u0643\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u064d \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0622\u0644\u0650 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u064d\u060c \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0628\u064e\u0627\u0631\u064e\u0643\u0652\u062a\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e \u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0622\u0644\u0650 \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e\u060c \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0643\u064e \u062d\u064e\u0645\u0650\u064a\u062f\u064c \u0645\u064e\u062c\u0650\u064a\u062f\u064c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Allahumma shalli &#8216;ala Muhammadin wa &#8216;ala ali Muhammad, kama shallaita &#8216;ala Ibrahima wa &#8216;ala ali Ibrahim, wa barik &#8216;ala Muhammadin wa &#8216;ala ali Muhammad, kama barakta &#8216;ala Ibrahima wa &#8216;ala ali Ibrahim, fil-&#8216;alamina innaka hamidun majid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: dibaca pada tasyahud akhir.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Langkah 12: Salam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Assalamu &#8216;alaikum wa rahmatullah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: rukun, diucapkan sambil menoleh ke kanan, kemudian ke kiri sesuai tata cara yang diikuti. Dengan salam, sholat dua rakaat selesai.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tabel Urutan Sholat Dhuha Dua Rakaat<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Urutan<\/th><th>Rakaat Pertama<\/th><th>Rakaat Kedua<\/th><\/tr><tr><td>Niat<\/td><td>Dilakukan saat takbiratul ihram<\/td><td>Tidak diulang<\/td><\/tr><tr><td>Al-Fatihah<\/td><td>Dibaca<\/td><td>Dibaca<\/td><\/tr><tr><td>Surat pendek<\/td><td>Boleh dibaca<\/td><td>Boleh dibaca<\/td><\/tr><tr><td>Rukuk<\/td><td>Dilakukan<\/td><td>Dilakukan<\/td><\/tr><tr><td>Iktidal<\/td><td>Dilakukan<\/td><td>Dilakukan<\/td><\/tr><tr><td>Sujud<\/td><td>Dua kali<\/td><td>Dua kali<\/td><\/tr><tr><td>Tasyahud<\/td><td>Tidak ada tasyahud akhir<\/td><td>Tasyahud akhir<\/td><\/tr><tr><td>Salam<\/td><td>Belum<\/td><td>Dilakukan<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tata Cara Sholat Dhuha Empat Rakaat<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kerjakan dua rakaat seperti panduan di atas.<\/li>\n\n\n\n<li>Akhiri dengan salam.<\/li>\n\n\n\n<li>Berdiri kembali.<\/li>\n\n\n\n<li>Hadirkan niat sholat Dhuha dua rakaat berikutnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kerjakan seperti dua rakaat pertama.<\/li>\n\n\n\n<li>Akhiri dengan salam.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengerjakan empat rakaat tidak berarti menambah bacaan khusus. Bacaannya sama persis dengan dua rakaat, hanya diulang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tata Cara Sholat Dhuha Enam atau Delapan Rakaat<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Enam rakaat dikerjakan dengan tiga kali dua rakaat, sedangkan delapan rakaat dikerjakan dengan empat kali dua rakaat. Setiap dua rakaat diakhiri salam menurut tata cara yang umum digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di antara setiap dua rakaat. Beristirahat singkat di sela-selanya juga diperbolehkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jumlah rakaat sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Dua rakaat yang dikerjakan dengan tenang lebih baik daripada delapan rakaat yang tergesa-gesa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Surat yang Dibaca Saat Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Fatihah dibaca pada setiap rakaat dan berstatus rukun menurut tata cara yang dijelaskan pada panduan ini. Adapun surat setelah Al-Fatihah berstatus sunnah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada surat pendek yang khusus diwajibkan untuk sholat Dhuha. Surah Ad-Dhuha maupun Asy-Syams boleh dibaca, tetapi sholat tetap sah tanpa keduanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membaca surat yang sudah dikuasai lebih baik daripada memaksakan surat yang belum hafal, karena kekhusyukan dan ketenangan lebih terjaga.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Rakaat<\/th><th>Pilihan Surat<\/th><th>Status<\/th><\/tr><tr><td>Pertama<\/td><td>Surat apa pun yang mudah<\/td><td>Sunnah<\/td><\/tr><tr><td>Kedua<\/td><td>Surat apa pun yang mudah<\/td><td>Sunnah<\/td><\/tr><tr><td>Rakaat tambahan<\/td><td>Surat apa pun yang mudah<\/td><td>Sunnah<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasangan surat tertentu yang beredar sebagai anjuran khusus Dhuha perlu diperiksa dalilnya. Kebiasaan yang berkembang di masyarakat tidak berubah menjadi kewajiban.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Doa Setelah Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada kewajiban membaca satu doa tertentu setelah sholat Dhuha. Setelah salam, jamaah dianjurkan berzikir dan berdoa dengan doa yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Doa dapat dibaca dalam bahasa Arab maupun bahasa yang dipahami. Isinya dapat mencakup permohonan ampun, keberkahan, rezeki halal, kesehatan, kemudahan urusan, dan keteguhan iman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Doa setelah Dhuha tidak menjadi penentu sah atau tidaknya sholat. Tidak membaca doa khusus sama sekali tidak membatalkan sholat yang telah dikerjakan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Doa Dhuha yang Populer di Indonesia<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0636\u064f\u0651\u062d\u064e\u0627\u0621\u064e \u0636\u064f\u062d\u064e\u0627\u0624\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627\u0621\u064e \u0628\u064e\u0647\u064e\u0627\u0624\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0644\u064e \u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0644\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0648\u064e\u0651\u0629\u064e \u0642\u064f\u0648\u064e\u0651\u062a\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u062f\u0652\u0631\u064e\u0629\u064e \u0642\u064f\u062f\u0652\u0631\u064e\u062a\u064f\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0635\u0652\u0645\u064e\u0629\u064e \u0639\u0650\u0635\u0652\u0645\u064e\u062a\u064f\u0643\u064e. \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0631\u0650\u0632\u0652\u0642\u0650\u064a \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0641\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u0632\u0650\u0644\u0652\u0647\u064f\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650 \u0641\u064e\u0623\u064e\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u0652\u0647\u064f\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u064f\u0639\u064e\u0633\u064e\u0651\u0631\u064b\u0627 \u0641\u064e\u064a\u064e\u0633\u0650\u0651\u0631\u0652\u0647\u064f\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0637\u064e\u0647\u0650\u0651\u0631\u0652\u0647\u064f\u060c \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u064e\u0639\u0650\u064a\u062f\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0642\u064e\u0631\u0650\u0651\u0628\u0652\u0647\u064f\u060c \u0628\u0650\u062d\u064e\u0642\u0650\u0651 \u0636\u064f\u062d\u064e\u0627\u0626\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u0628\u064e\u0647\u064e\u0627\u0626\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0644\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u0642\u064f\u0648\u064e\u0651\u062a\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u0642\u064f\u062f\u0652\u0631\u064e\u062a\u0650\u0643\u064e\u060c \u0622\u062a\u0650\u0646\u0650\u064a \u0645\u064e\u0627 \u0622\u062a\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u062d\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Allahumma innad-dhuha&#8217;a dhuha&#8217;uka, wal-baha&#8217;a baha&#8217;uka, wal-jamala jamaluka, wal-quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-&#8216;ishmata &#8216;ishmatuka. Allahumma in kana rizqi fis-sama&#8217;i fa anzilhu, wa in kana fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kana mu&#8217;assaran fa yassirhu, wa in kana haraman fa thahhirhu, wa in kana ba&#8217;idan fa qarribhu, bihaqqi dhuha&#8217;ika wa baha&#8217;ika wa jamalika wa quwwatika wa qudratika, atini ma ataita &#8216;ibadakash-shalihin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, turunkanlah; jika berada di bumi, keluarkanlah; jika sulit, mudahkanlah; jika haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah, dengan hak waktu Dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu membaca: setelah salam pada sholat Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: doa umum, bukan rukun dan tidak wajib dibaca.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Doa ini banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai doa umum setelah Dhuha dan tercantum dalam banyak buku tuntunan ibadah. Namun, penyebutannya sebagai doa khusus yang secara pasti diajarkan Rasulullah saw. perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan sumber, karena lafal ini tidak ditemukan dalam kitab hadis induk seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membacanya tetap diperbolehkan sebagai doa, sebab kandungan maknanya baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Yang perlu dihindari adalah menetapkannya sebagai kewajiban atau menyandarkannya secara pasti kepada Nabi Muhammad saw. tanpa dasar yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Doa Memohon Rezeki<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rezeki dalam Islam tidak terbatas pada uang. Cakupannya meliputi keimanan, kesehatan, ilmu, keluarga, kesempatan berbuat baik, ketenangan hati, pekerjaan halal, kecukupan, serta perlindungan dari perkara haram.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah Dhuha, jamaah dapat memanjatkan doa dari Al-Qur&#8217;an atau doa yang bersumber dari hadis. Salah satu yang ringkas dan bersumber dari Al-Qur&#8217;an adalah penggalan doa dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0631\u064e\u0628\u064e\u0651\u0646\u064e\u0627 \u0622\u062a\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062f\u064f\u0651\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0622\u062e\u0650\u0631\u064e\u0629\u0650 \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064b \u0648\u064e\u0642\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0631\u0650<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Latin: Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil-akhirati hasanatan wa qina &#8216;adzaban-nar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Status: doa dari Al-Qur&#8217;an, dapat dibaca kapan saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Doa dari Al-Qur&#8217;an, doa dari hadis, doa susunan ulama, dan doa pribadi dalam bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang berbeda dari sisi penyandaran, meskipun semuanya boleh dipanjatkan. Yang perlu dihindari adalah keyakinan bahwa membaca satu doa tertentu pasti langsung mendatangkan kekayaan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Zikir Setelah Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Zikir setelah Dhuha bersifat fleksibel selama menggunakan bacaan yang baik. Bacaan yang lazim dibaca meliputi istigfar, tasbih, tahmid, takbir, shalawat, lalu ditutup dengan doa pribadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada jumlah hitungan khusus yang ditetapkan secara pasti untuk zikir sesudah Dhuha. Menentukan jumlah tertentu lalu menyebutnya sebagai ketentuan khusus Dhuha tanpa dasar perlu dihindari.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Keutamaan Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Keutamaan<\/th><th>Dalil<\/th><th>Keterangan<\/th><\/tr><tr><td>Mencukupi sedekah persendian<\/td><td>Shahih Muslim no. 720 (sahih)<\/td><td>Cukup dengan dua rakaat Dhuha<\/td><\/tr><tr><td>Menjalankan wasiat Nabi<\/td><td>Shahih al-Bukhari no. 1178 dan Shahih Muslim no. 721 (sahih)<\/td><td>Wasiat kepada Abu Hurairah r.a.<\/td><\/tr><tr><td>Termasuk sholat Awwabin<\/td><td>Shahih Muslim no. 748 (sahih)<\/td><td>Berkaitan dengan waktu utama Dhuha<\/td><\/tr><tr><td>Menambah amalan sunnah<\/td><td>Dalil umum sholat sunnah<\/td><td>Tidak menggantikan sholat wajib<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keutamaan lain yang sering beredar, terutama yang menyebut jumlah pahala tertentu atau janji hasil duniawi, perlu diperiksa terlebih dahulu kualitas riwayatnya sebelum disebarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di luar dalil, sholat Dhuha juga melatih konsistensi, mengawali aktivitas dengan ibadah, dan menumbuhkan ketenangan sebelum bekerja atau belajar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Benarkah Sholat Dhuha Melancarkan Rezeki?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha adalah bentuk ibadah, syukur, dan tawakal. Seorang Muslim yang mengerjakannya tetap diperintahkan berusaha dan bekerja dengan cara yang halal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rezeki berada dalam ketetapan Allah Swt., dan kelapangannya dapat berwujud banyak hal: kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, atau kemudahan urusan. Dhuha bukan transaksi untuk menuntut hasil materi dalam waktu tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, diterimanya ibadah tidak diukur dari naik atau turunnya penghasilan. Doa yang dipanjatkan setelah Dhuha sebaiknya tetap disertai ikhtiar yang halal dan kesabaran.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sholat Dhuha di Rumah, Masjid, Kantor, atau Sekolah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha dapat dikerjakan di rumah, masjid, kantor, maupun sekolah, sepanjang tempatnya suci dan memenuhi syarat sholat. Tidak perlu menunggu sampai berada di masjid jika tempat lain sudah memenuhi syarat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat anjuran umum agar sebagian sholat sunnah dikerjakan di rumah, dan anjuran ini banyak dibahas para ulama dalam konteks menghidupkan rumah dengan ibadah. Penerapannya tetap memperhatikan kondisi masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelaksanaan di tempat kerja atau sekolah sebaiknya memperhatikan aturan yang berlaku serta tidak mengganggu tugas dan hak orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apakah Sholat Dhuha Boleh Berjamaah?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha pada dasarnya lazim dikerjakan sendiri, sebagaimana umumnya sholat sunnah mutlak. Pelaksanaan berjamaah sesekali dibahas para ulama dan sebagian membolehkannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan tersebut berasal dari cara memahami hadis dan praktik para sahabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang perlu dibedakan adalah antara kebolehan, kebiasaan yang berkembang, dan penetapan jamaah rutin sebagai bagian dari syariat. Pedoman masjid, sekolah, atau lembaga yang digunakan sebaiknya tetap dihormati.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sholat Dhuha bagi Perempuan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tata cara sholat Dhuha bagi perempuan sama dengan laki-laki. Tidak ada lafal niat maupun bacaan yang berbeda karena perbedaan jenis kelamin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perempuan dapat melaksanakannya di rumah atau tempat suci lainnya, dengan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan sholat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi haid dan nifas mengikuti ketentuan umum sholat, yaitu tidak mengerjakan sholat selama masa tersebut. Bagi yang mengalami istihadhah, ketentuan bersuci mengikuti pembahasan fikih yang berlaku pada sholat lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sholat Dhuha bagi Pekerja dan Pelajar<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Periksa jadwal terbit matahari di wilayah setempat.<\/li>\n\n\n\n<li>Pilih jeda sebelum kegiatan utama dimulai.<\/li>\n\n\n\n<li>Ambil wudhu lebih awal agar tidak terburu-buru.<\/li>\n\n\n\n<li>Kerjakan minimal dua rakaat.<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan surat yang sudah dihafal.<\/li>\n\n\n\n<li>Laksanakan dengan tenang dan tuma&#8217;ninah.<\/li>\n\n\n\n<li>Pilih tempat yang bersih dan tidak mengganggu orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Jangan mengabaikan pekerjaan atau pelajaran yang menjadi tanggung jawab.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua rakaat sudah cukup sebagai pelaksanaan minimal. Jumlah kecil yang rutin lebih mudah dijaga daripada jumlah besar yang hanya sesekali.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Jika Sholat Dhuha Terlewat?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu Dhuha berakhir ketika masuk waktu Zuhur. Setelah azan Zuhur berkumandang, sholat sunnah yang dikerjakan tidak lagi berstatus Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian ulama membahas kebolehan mengqadha sholat sunnah yang terlewat, dan sebagian lain berpendapat berbeda. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, sehingga pendapat qadha tidak tepat disajikan sebagai kesepakatan mutlak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembaca yang terlewat cukup kembali mengerjakannya pada hari berikutnya tanpa merasa putus asa. Konsistensi dalam ibadah dibangun secara bertahap.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sholat Dhuha Saat Safar<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha tetap dapat dikerjakan ketika bepergian, selama waktunya sudah masuk dan tempatnya suci. Menghadap kiblat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi perjalanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat pembahasan fikih tersendiri mengenai sholat sunnah yang dikerjakan di atas kendaraan, dan rinciannya sebaiknya dirujuk pada kitab fikih atau penjelasan ulama yang kompeten.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesalahan yang Sering Terjadi<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Kesalahan<\/th><th>Penjelasan<\/th><th>Cara Memperbaiki<\/th><\/tr><tr><td>Sholat tepat saat matahari terbit<\/td><td>Termasuk waktu larangan<\/td><td>Tunggu hingga matahari meninggi<\/td><\/tr><tr><td>Menganggap Surah Ad-Dhuha wajib<\/td><td>Tidak ada surat khusus yang wajib<\/td><td>Baca surat yang dikuasai<\/td><\/tr><tr><td>Menganggap doa populer sebagai rukun<\/td><td>Doa setelah sholat bukan rukun<\/td><td>Berdoa sesuai kemampuan<\/td><\/tr><tr><td>Menganggap niat harus dilafalkan<\/td><td>Niat berada di dalam hati<\/td><td>Hadirkan niat saat takbir<\/td><\/tr><tr><td>Menganggap Dhuha wajib<\/td><td>Hukumnya sunnah<\/td><td>Jangan menyalahkan yang tidak mengerjakan<\/td><\/tr><tr><td>Mengejar jumlah rakaat<\/td><td>Kualitas dan kekhusyukan terabaikan<\/td><td>Mulai dari dua rakaat<\/td><\/tr><tr><td>Terlalu dekat dengan Zuhur<\/td><td>Berisiko masuk waktu sholat lain<\/td><td>Periksa jadwal setempat<\/td><\/tr><tr><td>Menjanjikan kekayaan<\/td><td>Tidak sesuai tujuan ibadah<\/td><td>Pahami rezeki secara luas<\/td><\/tr><tr><td>Membaca terlalu cepat<\/td><td>Mengurangi tuma&#8217;ninah<\/td><td>Lakukan setiap gerakan dengan tenang<\/td><\/tr><tr><td>Tidak membaca Al-Fatihah<\/td><td>Al-Fatihah termasuk rukun menurut tata cara yang dijelaskan<\/td><td>Baca pada setiap rakaat<\/td><\/tr><tr><td>Mengabaikan wudhu<\/td><td>Sholat memerlukan bersuci<\/td><td>Berwudhu sebelum sholat<\/td><\/tr><tr><td>Menunda sholat wajib karena Dhuha<\/td><td>Sunnah tidak mengalahkan kewajiban<\/td><td>Dahulukan ibadah wajib<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Panduan Sangat Singkat untuk Pemula<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Pastikan waktu Dhuha sudah masuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Berwudhu dan menghadap kiblat.<\/li>\n\n\n\n<li>Niat di dalam hati.<\/li>\n\n\n\n<li>Takbiratul ihram.<\/li>\n\n\n\n<li>Baca Al-Fatihah dan surat yang mudah.<\/li>\n\n\n\n<li>Rukuk, iktidal, dan dua sujud.<\/li>\n\n\n\n<li>Berdiri untuk rakaat kedua.<\/li>\n\n\n\n<li>Baca Al-Fatihah dan surat yang mudah.<\/li>\n\n\n\n<li>Rukuk, iktidal, dan dua sujud.<\/li>\n\n\n\n<li>Baca tasyahud akhir.<\/li>\n\n\n\n<li>Akhiri dengan salam.<\/li>\n\n\n\n<li>Berzikir dan berdoa sesuai kemampuan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Versi Hafalan Cepat<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Tahap<\/th><th>Pengingat<\/th><\/tr><tr><td>Waktu<\/td><td>Setelah matahari meninggi hingga sebelum Zuhur<\/td><\/tr><tr><td>Jumlah<\/td><td>Minimal dua rakaat<\/td><\/tr><tr><td>Niat<\/td><td>Di dalam hati<\/td><\/tr><tr><td>Rakaat pertama<\/td><td>Al-Fatihah dan surat<\/td><\/tr><tr><td>Rakaat kedua<\/td><td>Al-Fatihah dan surat<\/td><\/tr><tr><td>Akhir<\/td><td>Tasyahud dan salam<\/td><\/tr><tr><td>Setelah sholat<\/td><td>Zikir dan doa<\/td><\/tr><tr><td>Surat khusus<\/td><td>Tidak wajib<\/td><\/tr><tr><td>Doa khusus<\/td><td>Tidak wajib<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jadwal Praktis Membiasakan Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Tingkat<\/th><th>Target<\/th><th>Keterangan<\/th><\/tr><tr><td>Pemula<\/td><td>Dua rakaat beberapa kali dalam sepekan<\/td><td>Bangun kebiasaan<\/td><\/tr><tr><td>Berkembang<\/td><td>Dua rakaat setiap pagi saat memungkinkan<\/td><td>Menjaga konsistensi<\/td><\/tr><tr><td>Terbiasa<\/td><td>Empat rakaat atau lebih sesuai kemampuan<\/td><td>Tidak perlu memaksakan<\/td><\/tr><tr><td>Sangat sibuk<\/td><td>Dua rakaat sebelum aktivitas<\/td><td>Tetap memperhatikan tanggung jawab<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel di atas hanyalah saran untuk membangun kebiasaan, bukan ketentuan syariat. Tidak ada tingkatan resmi dalam pelaksanaan sholat Dhuha.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Adab Melaksanakan Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Meluruskan niat karena Allah Swt. dan menjaga keikhlasan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak memamerkan ibadah kepada orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga kebersihan badan, pakaian, dan tempat.<\/li>\n\n\n\n<li>Berpakaian sopan dan menutup aurat.<\/li>\n\n\n\n<li>Mematikan atau mengecilkan suara ponsel.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak mengganggu aktivitas orang lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga tuma&#8217;ninah pada setiap gerakan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak menjadikan ibadah sekadar alat memperoleh materi.<\/li>\n\n\n\n<li>Bersyukur atas kesempatan mengerjakannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Berdoa dengan rendah hati.<\/li>\n\n\n\n<li>Melanjutkan ikhtiar setelah selesai beribadah.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak merendahkan orang yang belum terbiasa mengerjakan Dhuha.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Catatan Perbedaan Fikih<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Panduan ini merangkum tata cara sholat Dhuha yang umum digunakan oleh umat Islam di Indonesia. Beberapa rincian, seperti jumlah rakaat maksimal, penyebutan sholat Isyraq, surat yang dianjurkan, dan doa setelah sholat, memiliki perbedaan penjelasan di kalangan ulama. Perbedaan tersebut perlu disikapi dengan saling menghormati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai catatan kebahasaan, bentuk baku dalam bahasa Indonesia adalah \u201csalat\u201d, sedangkan penulisan \u201csholat\u201d banyak digunakan dalam percakapan dan pencarian sehari-hari. Keduanya menunjuk pada ibadah yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha berhukum sunnah dan dikerjakan setelah matahari terbit serta meninggi hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Jumlah minimalnya dua rakaat, dan pelaksanaan yang paling mudah adalah dua rakaat sekali salam, lalu diulang bila ingin menambah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Niat cukup dihadirkan di dalam hati, dan tidak ada surat tertentu yang wajib dibaca setelah Al-Fatihah. Doa setelah sholat, termasuk doa Dhuha yang populer di Indonesia, tidak berstatus rukun sehingga sholat tetap sah tanpa membacanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sholat Dhuha sebaiknya tidak dimaknai sekadar sebagai cara memperoleh kekayaan. Nilainya terletak pada syukur, kedekatan dengan Allah Swt., dan kesungguhan yang dijaga secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ Sholat Dhuha<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa hukum sholat Dhuha?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hukumnya sunnah. Sebagian ulama menilainya sunnah muakkadah karena adanya wasiat khusus Rasulullah saw. kepada sahabat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kapan waktu sholat Dhuha dimulai?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dimulai setelah matahari terbit dan sudah meninggi, yaitu ketika waktu larangan sholat saat matahari terbit telah berlalu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Sampai jam berapa sholat Dhuha dapat dilakukan?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai menjelang matahari tergelincir, yaitu sebelum masuk waktu Zuhur. Jam pastinya mengikuti jadwal wilayah setempat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah pukul 06.00 sudah boleh sholat Dhuha?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bergantung pada waktu terbit matahari di daerah tersebut. Jika matahari baru saja terbit, sebaiknya menunggu sampai matahari meninggi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah pukul 07.00 boleh sholat Dhuha?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Umumnya sudah masuk waktu Dhuha di banyak wilayah Indonesia. Meski begitu, jadwal terbit matahari setempat tetap menjadi patokan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kapan waktu terbaik sholat Dhuha?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika matahari semakin tinggi dan panas mulai terasa, sebagaimana gambaran dalam hadis tentang sholat Awwabin. Mengerjakannya pada awal waktu tetap sah dan bernilai ibadah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sumber Rujukan<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Al-Qur&#8217;an, Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah ayat 201.<\/li>\n\n\n\n<li>Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari,\u00a0<em>Shahih al-Bukhari<\/em>, hadis no. 1103 dan 1178.<\/li>\n\n\n\n<li>Muslim bin al-Hajjaj,\u00a0<em>Shahih Muslim<\/em>, hadis no. 336, 719, 720, 721, 748, dan 831.<\/li>\n\n\n\n<li>Muhammad bin &#8216;Isa at-Tirmidzi,\u00a0<em>Jami&#8217; at-Tirmidzi<\/em>, hadis no. 473 dan 586.<\/li>\n\n\n\n<li>Ibnu Majah,\u00a0<em>Sunan Ibnu Majah<\/em>, hadis no. 1380.<\/li>\n\n\n\n<li>Yahya bin Syaraf an-Nawawi,\u00a0<em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim<\/em>, bab sholat Dhuha dan sholat Awwabin.<\/li>\n\n\n\n<li>Yahya bin Syaraf an-Nawawi,\u00a0<em>Al-Majmu&#8217; Syarh al-Muhadzdzab<\/em>, bab sholat sunnah Dhuha.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dhuha. Jumlah minimalnya dua rakaat dan pelaksanaannya mengikuti tata cara sholat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":2530,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-2529","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Itera Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-28T02:16:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-28T02:16:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1672\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"941\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rizky Pratama\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rizky Pratama\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"22 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rizky Pratama\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2d0d1b8cbbe0f7a63a6b6d0b0768c0f8\"},\"headline\":\"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa\",\"datePublished\":\"2026-07-28T02:16:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T02:16:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/\"},\"wordCount\":4591,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png\",\"articleSection\":[\"Pendidikan\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/\",\"name\":\"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png\",\"datePublished\":\"2026-07-28T02:16:24+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T02:16:26+00:00\",\"description\":\"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png\",\"width\":1672,\"height\":941,\"caption\":\"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap dengan Bacaan dan Doanya\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/blog\\\/wp-json\\\/wp\\\/v2\\\/posts\\\/2529\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Itera Blog\",\"description\":\"Portal Informasi Berita Indonesia dari Dunia Kampus\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Itera Blog\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/cropped-pict-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/07\\\/cropped-pict-1.png\",\"width\":417,\"height\":154,\"caption\":\"Itera Blog\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/2d0d1b8cbbe0f7a63a6b6d0b0768c0f8\",\"name\":\"Rizky Pratama\",\"description\":\"Rizky Pratama merupakan penulis yang berfokus pada isu pendidikan, dunia kampus, beasiswa, kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia. Aktif menyusun artikel berbasis referensi resmi agar informasi yang disampaikan mudah dipahami dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, guru, serta masyarakat umum.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.itera.ac.id\\\/blog\\\/author\\\/rizky\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa","description":"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa","og_description":"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.","og_url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/","og_site_name":"Itera Blog","article_published_time":"2026-07-28T02:16:24+00:00","article_modified_time":"2026-07-28T02:16:26+00:00","og_image":[{"width":1672,"height":941,"url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png","type":"image\/png"}],"author":"Rizky Pratama","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Rizky Pratama","Est. reading time":"22 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/"},"author":{"name":"Rizky Pratama","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#\/schema\/person\/2d0d1b8cbbe0f7a63a6b6d0b0768c0f8"},"headline":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa","datePublished":"2026-07-28T02:16:24+00:00","dateModified":"2026-07-28T02:16:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/"},"wordCount":4591,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png","articleSection":["Pendidikan"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/","name":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png","datePublished":"2026-07-28T02:16:24+00:00","dateModified":"2026-07-28T02:16:26+00:00","description":"Panduan tata cara sholat Dhuha lengkap: waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, niat, bacaan Arab dan Latin, doa setelah sholat, serta kesalahan yang perlu dihindari.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png","contentUrl":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Tata-Cara-Sholat-Dhuha-Lengkap-dengan-Bacaan-dan-Doanya.png","width":1672,"height":941,"caption":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap dengan Bacaan dan Doanya"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/tata-cara-sholat-dhuha-lengkap-bacaan-waktu-dan-doa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tata Cara Sholat Dhuha Lengkap, Bacaan, Waktu dan Doa","item":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2529"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/","name":"Itera Blog","description":"Portal Informasi Berita Indonesia dari Dunia Kampus","publisher":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#organization","name":"Itera Blog","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/cropped-pict-1.png","contentUrl":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/cropped-pict-1.png","width":417,"height":154,"caption":"Itera Blog"},"image":{"@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/#\/schema\/person\/2d0d1b8cbbe0f7a63a6b6d0b0768c0f8","name":"Rizky Pratama","description":"Rizky Pratama merupakan penulis yang berfokus pada isu pendidikan, dunia kampus, beasiswa, kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia. Aktif menyusun artikel berbasis referensi resmi agar informasi yang disampaikan mudah dipahami dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, guru, serta masyarakat umum.","url":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/author\/rizky\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2529"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2529\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2531,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2529\/revisions\/2531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.itera.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}